Senin, 04 April 2016

Dari Pantai Joras Lanjut Ke Bukit Rimpi



Bukit Rimpi
     Setelah asik bersantai di tepi pantai, tim kembali le arah pelaihari sekalian melewati jalan pulang, tim  merencanakan akan istirahat dan sholat dzujur di persinggahan selama perjalanan. Dan dijadwalkan setelah istirahat nanti akan diteruskan ke bukit Rimpi/ Teletubies. Bukit ini terletak di desa tampang kecamatan pelaihari. Memang cukup strategis letak bukit ini dan sangat cepat dicapai karena sudah memiliki akses jalan langsung dari jalan utama jalur pelaihari - batulicin.

     Tim segera meluncur keluar dari kawasan pantai joras, langsung menuju ke arah jorong dan pelaihari. Diperjalanan tim merasa kelaparan dan kehausan. Sehingga sambil menunaikan ibadah sholat dzuhur kami membeli baso dan es kelapa. Sambil melepas lelah disebuah langgar, tim menikmati santapan baso nya karena perut memang sudah ngemiscall.
     Setelah selesai menyantap baso dan menyerupu es kelapa. Perjalanan dilanjutkan menuju bukit rimpi. Tak jauh dari lokasi kami beristirahat. Kurang lebih 20 menit perjalanan kami sudah sampai di gerbang menuju bukut rimpi. Membayar masuk 10rebu/ motor dan parkir 5 rebu. Sekarang sudah tersedia warung yang sekaligus tempat markir motor. Ada beberapa pengunjung juga yang hadir disini.


Awan hitam menyelimuti

Tim memulai Pendakian

Mang Rusdi mulai mendaki

Paman Wahyu ikut mendaki
   Namun situasi alam mendadak mendung dan awan hitam mulai menyelimuti. cemas mulai melanda saat kami akan melangkahkan kaki untuk mendaki bukit ini. Angin sudah mulai ngagelebug saat kami berada ditengah pendakian. Kami sangat khawatir akan terjadi fenomena alam hujan angin dordar gelap. Tim mempercepat langkah agar cepat samapai di puncak. Bukit ini memang tidak begitu tinggi untuk didaki. karena memang terletak di pinggir jalan yang juga memang tinggi. Curah hujan di pelai hari memang sangat tinggi karena kondisi alamnya yang berbukit dan juga berbatasan langsung dengan lautan.

Pemandangan dari sekitar puncak

Pemandangan dari sekitar puncak

Mang Sany sudah sampai puncak
     Puncak bukit mulai terlihat. Dari sini hamparan rerumputan hijau tampak jelas. namun kurang begitu memancarkan warnanya yang terang karena langit mulai gelap. Tapi hamparan hijaunya ini sangat menenangkan hati. Hembusan anginnya juga mampu menghapus lelah. rasa sejuk yang mendalam kami rasakan setelah tadi berpanasan sekarang kami harus berdinginan. Kami juga mengambil beberapa gambar di sekitar puncak untuk mempertahankan eksistensi kami.

Mang Rusdi

Mang Sany di atas Batu

Widi sampai di puncak

     Selepas itu guludug sudah mulai menggelegar, memberikan getaran yang mengguncang jiwa. Tim segera kembali ke warung, karena apa jadinya jika kami masih berada dipuncak yang secara logika lebih dekat dengan langit dan tak banyak tempat untuk berteduh. kami bisa mateng disamber gledek. beberapa pengunjung lain juga langsung kembali dan mencari tempat berteduh. bahkan ada yang baru dateng kembali lagi karena tidak berani ambil resiko nantinya. 

    Hujan mulai turun dan kami sedikit lagi mencapai warung. Kalo anda bertanya kenapa kami takut banget ama ujan, hingga kami harus lari dan nyari tempat berteduh. Jawabnya karena kami bukan orang india. Kami orang indonesia yang mandi aja kadang jarang. Kalo kata kolot baheula kalo huhunajan binya menyebabkan hareeng. Jadi kami tak kuasa jika nanti kami sampai hareeng . Kalo di india kan lain cerita. kalo ujan mereka nyanyi - nyanyi sambil ujan - ujanan. hehehe,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar